Melalui tulisan pendapatnya yang berjudul “Bracing Yourself for a Possible Near-Term Melt-Up”, Jeremy mengurai pokok pandangannya melalui berbagai peristiwa bubble dari masa ke masa, hingga membuat perbandingan diantaranya.

Jeremy bahkan mengurai beberapa hal yang mendukung tentang kemungkinan akhir masa bubble tersebut berdasarkan kondisi-kondisi khusus, seperti pada Presiden-presiden dari partai Republik yang kini berkuasa, sebagai salah satu syaratnya, serta kebijakan-kebijakan yang diambil The Fed .

Di dalam laporan detailnya, titik fokus utama pada apa yang Jeremy lihat pada kondisi saat ini, yakni dengan melihat bahwa sejak Juli 2014 hingga Agustus 2016 kondisi pasar telah terlihat begitu berusah payah untuk naik selama 2 tahun. Setelah pasar bersusah payah, tren naik berujung kemudian sampai pada bulan Nopember 2017 berada di posisi puncaknya.

Melihat kondisi tersebut, Jeremy justru melihatnya sebagai kondisi fundamental yang paling sempurna untuk selanjutnya menjadi fase akhir bubble di pasar saham secara global. Ia melihat di dalam fase dua tahun terakhir telah menjadi fase yang paling banyak mengecewakan bagi para investor secara global, dilanjutkan kemudian menjadi fase paling apik yang ia ibaratkan sebagai “mendaki dinding kekhawatiran”.

Jeremy cukup yakin dengan kondisi itu, diyakinkan dengan kondisi secara global yang dilihatnya cukup singkron untuk pertama kalinya dalam belasan tahun.

Meski ia menyatakan bahwa kondisi pasar saat ini berada pada salah satu harga tertinggi dalam sejarah, namun Jeremy Grantham juga mengutip percepatan harga ekuitas di AS, konsentrasi di bursa saham dan liputan media-media besar mengenai kejadian seperti gelombang arus bitcoin maupun Amazon.

Garis besarnya dalam tulisannya tersebut, Jeremy ingin memberikan peringatan akan potensi ambruknya pasar saham yang kemungkinan besarnya terjadi dalam waktu dekat, serta mempersiapkan diri dalam menghadapinya.

BACA JUGA :  Aladin Coin Mulai Masuk Di Indonesia Diyakini Akan Tembus Rp135 Juta

Bitcoin disebut salah satu bubble di dunianya sendiri

Masih di dalam laporannya, Grantham juga melihat fakta tentang meroketnya Bitcoin. Dalam hal ini, Grantham memandang Bitcoin sebagai salah satu bubble juga. Ia menilai bitcoin sebagai sebuah mini-bubble di dunianya sendiri.

Kenyataannya, harga tertinggi bitcoin selama beberapa bulan terakhir memang dianggap cukup drastis. Secara khusus, Ia melihat lonjakan harga yang drastis ini bahkan melampaui bubble terbesar dalam sejarah.

Bitcoin telah melalui pertumbuhan harga yang luar biasa drastis selama setahun lalu. Perdagangan bitcoin bahkan diawali dengan harga lebih dari 1.000 USD pada awal tahun 2017. Berlanjut hingga mencapai puncak tertinggi sepanjang masa yang hampir mencapai 20.000 USD per BTC di bulan Desember.

Uniknya, dalam pemaparan yang secara khusus tentang Bitcoin ini, Jeremy menyebutnya sebagai salah satu pertanda akan jatuhnya bubble pasar saham secara global tersebut.

Pandangan-pandangan yang menyatakan bitcoin bubble, tentu sudah tidak asing lagi di dalam dunia kripto, lantaran sudah cukup banyak orang sebelum-sebelumnya yang berkata demikian. Dari sekian banyak argumen senada yang telah ada, anggapan bitcoin bubble atau tidak ternyata juga tidak terlalu berpengaruh pada satu fakta bahwa dunia kripto telah merevolusi sistem keuangan.

Bahkan saat ini, telah ada ribuan kripto yang beredar. Dan satu fakta lagi tentang bitcoin, bahwa viabilitas bitcoin dan aset kripto lain juga tidak bergantung pada apakah bubble atau tidak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here